Apakah Anak Autis Bisa Kembali Normal ?

1.Kenali Autis Sejak Dini.

Autism Spectrum Disorder atau lebih dikenal dengan autis merupakan gangguan saraf yang berkembang pada otak anak. Autis sendiri diambil dari kata ‘auto’ yang berarti sendiri, sehingga anak yang menderita autis seolah-olah hidup di dunia sendiri. Hal ini menyebabkan anak memiliki masalah dalam berkomunikasi dan interaksi dengan lingkungan nyata mereka.

Penyebab anak yang mengalami autis bisa berasal dari genetis. Ada kemungkinan kakek-nenek atau buyut telah menderita autis, sehingga gen mengalir ke turunan orangtua. Anak penderita autis juga bisa disebabkan oleh lingkungan pre-natal anak yang kurang baik.

Polusi udara yang memiliki kandungan logam berat hingga sang ibu mungkin kurang memperhatikan gizi makanan sehingga berpengaruh pada kesehatan janin.

 

2. Jenis Terapi Bagi Penderita Autis.

Orangtua tentu menginginkan dan mengutamakan kesehatan buah hati nomor satu. Berbagai cara akan dilakukan untuk sang anak. Ada banyak macam penanganan agar sang anak dapat hidup seperti orang normal. Bagaimana menangani anak autis?

  • Terapi Wicara dan Komunikasi

Terapi ini dilakukan dengan cara mengajak anak autis untuk berbicara setiap hari. Terapi ini diterapkan bagi anak yang terlambat bicara. Jangan meremehkan kata-kata yang dilontarkan oleh penderita. Ucapan yang dilontarkan oleh anak autis memang tidak jelas pada awalnya.

Namun seiring waktu akan terbentuk kalimat yang utuh dan jelas apa yang mereka katakan. Terapi wicara dan komunikasi juga mengajarkan cara berkomunikasi yang baik dan sopan. Anak penderita autis akan belajar bagaimana bicara yang baik kepada orang lain.

  • Terapi Sosial

Terapi sosial merupakan terapi yang penting diterapkan kepada penderita autis. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, anak autis cenderung memiliki dunia sendiri sehingga mereka tidak peduli dengan sekitarnya.

Terapi ini cocok agar melatih anak autis untuk bersosialisasi dan melihat lingkungan yang luas.

  • Terapi Fisik dan Okupasi

Terapi fisik biasa diterapkan untuk anak-anak yang mengalami sulit berjalan atau bergerak secara umum. Terapi ini akan membiasakan anak untuk berolahraga, seperti bersepeda atau berenang. Hal ini diterapkan untuk membiasakan otot anak untuk bekerja dengan baik.

Sedangkan, terapi okupasi merupakan terapi untuk melakukan stimulasi otot dan saraf anak agar bekerja secara normal. Biasanya, terapi ini untuk penderita yang masih dibawa umur 2 tahun, namun tidak menutup kemungkinan anak normal untuk mengikuti terapi ini.

 

Ada banyak terapi yang disediakan demi perkembangan anak yang lebih baik. Orangtua perlu mengetahui dan bisa mencoba berbagai macam terapi. Ada kala mencoba terapi di tempat A, beberapa bulan mencoba di tempat B.

Hal ini diharapkan orangtua dapat menemukan terapi yang cocok bagi anak mereka. Lingkungan terapi yang cocok dengan minat anak akan mendorong perkembangan otak supaya menjadi lebih baik.